• Headlines News :

    Cerita Anak: Pangeran Kodok


    Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang putri yang cantik jelita. Karena kecantikannya juga dia menjadi terkenal seantero jagat raya. Bahkan konon sang rembulan pun menjadi malu untuk bersinar karena merasa kalah dengan kecantikan si putri. Kulit tubuh sang putri yang halus dan bersinar, membuat kagum semua orang yang melihatnya. Sang putri tinggal di istana yang megah, bersama para pelayan-pelayannya.

    Di dekat istana tersebut terletak hutan kayu yang gelap dan rimbun, dan di hutan tersebut, di bawah sebuah pohon tua yang yang mempunyai daun-daun berbentuk hati, ada sebuah sumur dan ketika cuaca panas, putri Raja yang cantik jelita sering ke hutan tersebut untuk duduk di tepi sumur yang dingin, dan jika waktu terasa panjang dan membosankan, dia akan mengeluarkan bola yang terbuat dari emas, melemparkannya ke atas dan menangkapnya kembali, hal ini menjadi hiburan putri raja untuk melewatkan waktu.

    Suatu ketika, bola emas itu dimainkan dan dilempar-lemparkan keatas, bola emas itu tergelincir dari tangan putri Raja dan terjatuh di tanah dekat sumur lalu terguling masuk ke dalam sumur tersebut. Mata putri raja hanya bisa memandangi bola tersebut meluncur kedalam sumur yang dalam, begitu dalamnya hingga dasar sumur tidak kelihatan lagi. Putri raja tersebut mulai menangis, dan terus menangis seolah-olah tidak ada hyang bisa menghiburnya lagi. Di tengah-tengah tangisannya dia mendengarkan satu suara yang berkata kepadanya,

    "Apa yang membuat kamu begitu sedih, sang Putri? air matamu dapat melelehkan hati yang terbuat dari batu."

    Dan ketika putri raja tersebut melihat dari mana sumber suara tersebut berasal, tidak ada seseorangpun yang kelihatan, hanya seekor kodok yang menjulurkan kepala besarnya yang jelek keluar dari air.

    "Oh, kamukah yang berbicara?" kata sang putri; "Saya menangis karena bola emas saya tergelincir dan jatuh kedalam sumur."

    "Jangan kuatir, jangan menangis," jawab sang kodok, "Saya bisa menolong kamu; tetapi apa yang bisa kamu berikan kepada saya apabila saya dapat mengambil bola emas tersebut?"

    "Apapun yang kamu inginkan," katanya; "pakaian, mutiara dan perhiasan manapun yang kamu mau, ataupun mahkota emas yang saya pakai ini."

    "Pakaian, mutiara, perhiasan dan mahkota emas mu bukanlah untuk saya," jawab sang kodok; "Bila saja kamu menyukaiku, dan menganggap saya sebagai teman bermain, dan membiarkan saya duduk di mejamu, dan makan dari piringmu, dan minum dari gelasmu, dan tidur di ranjangmu, - jika kamu berjanji akan melakukan semua ini, saya akan menyelam ke bawah sumur dan mengambilkan bola emas tersebut untuk kamu."

    "Ya tentu," jawab sang putri raja; "Saya berjanji akan melakukan semua yang kamu minta jika kamu mau mengambilkan bola emas ku."

    Tetapi putri raja tersebut berpikir,  "Omong kosong apa yang dikatakan oleh kodok ini! seolah-olah sang kodok ini bisa melakukan apa yang dimintanya selain berkoak-koak dengan kodok lain, bagaimana dia bisa menjadi pendamping seseorang."

    Tetapi kodok tersebut, begitu mendengar sang putri mengucapkan janjinya, menarik kepalanya masuk kembali ke dalam ari dan mulai menyelam turu, setelah beberapa saat dia kembali kepermukaan dengan bola emas pada mulutnya dan melemparkannya ke atas rumput.

    Putri raja menjadi sangat senang melihat mainannya kembali, dan dia mengambilnya dengan cepat dan lari menjauh.

    "Berhenti, berhenti!" teriak sang kodok; "bawalah aku pergi juga, saya tidak dapat lari secepat kamu!"

    Tetapi hal itu tidak berguna karena sang putri itu tidak mau mendengarkannya dan mempercepat larinya pulang ke rumah, dan dengan cepat melupakan kejadian dengan sang kodok, yang masuk kembali ke dalam sumur.

    Hari berikutnya, ketika putri Raja sedang duduk di meja makan dan makan bersama Raja dan menteri-menterinya di piring emasnya, terdengar suara sesuatu yang meloncat-loncat di tangga, dan kemudian terdengar suara ketukan di pintu dan sebuah suara yang

    berkata "Putri raja, biarkanlah saya masuk!"

    Putri Raja yang itu kemudian berjalan ke pintu dan membuka pintu tersebut, ketika dia melihat seekor kodok yang duduk di luar, dia menutup pintu tersebut kembali dengan cepat dan tergesa-gesa duduk kembali di kursinya dengan perasaan gelisah. Raja yang menyadari perubahan expresi putrinya tersebut berkata,

    "Anakku, apa yang kamu takutkan? apakah ada raksasa berdiri di luar pintu dan siap untuk membawa kamu pergi?"

    "Oh.. tidak," jawabnya; "tidak ada raksasa, hanya kodok jelek."

    "Dan apa yang kodok itu minta?" tanya sang Raja.

    "Oh papa," jawabnya, "ketika saya sedang duduk di sumur kemarin dan bermain dengan bola emas, bola tersebut tergelincir jatuh ke dalam sumur, dan ketika saya menangis karena kehilangan bola emas itu, seekor kodok datang dan berjanji untuk mengambilkan bola tersebut dengan syarat bahwa saya akan membiarkannya menemaniku, tetapi saya

    berpikir bahwa dia tidak mungkin meninggalkan air dan mendatangiku; sekarang dia berada di luar pintu, dan ingin datang kepadaku."

    Dan kemudian mereka semua mendengar kembali ketukan kedua di pintu dan berkata,

    "Putri Raja yang, bukalah pintu untuk saya!, Apa yang pernah kamu janjikan kepadaku? Putri Raja, bukalah pintu untukku!"

    "Apa yang pernah kamu janjikan harus kamu penuhi," kata sang Raja; "sekarang biarkanlah dia masuk."

    Ketika dia membuka pintu, kodok tersebut melompat masuk, mengikutinya terus hingga putri tersebut duduk kembali di kursinya. Kemudian dia berhenti dan memohon, "Angkatlah saya supaya saya bisa duduk denganmu."

    Tetapi putri Raja tidak memperdulikan kodok tersebut sampai sang Raja memerintahkannya kembali. Ketika sang kodok sudah duduk di kursi, dia meminta agar dia dinaikkan di atas meja,dan disana dia berkata lagi,

    "Sekarang bisakah kamu menarik piring makanmu lebih dekat, agar kita bisa makan bersama."Sang putri Raja tersebut melakukan apa yang diminta oleh sang kodok, tetapi semua dapat melihat bahwa putri tersebut hanya terpaksa melakukannya.

    "Saya merasa cukup sekarang," kata sang kodok pada akhirnya, "dan saya merasa sangat lelah, kamu harus membawa saya ke kamarmu, saya akan tidur di ranjangmu."

    Kemudian putri Raja tersebut mulai menangis membayangkan kodok yang dingin tersebut tidur di tempat tidurnya yang bersih. Sekarang sang Raja dengan marah berkata kepada putrinya,

    "Kamu adalah putri Raja dan apa yang kamu janjikan harus kamu penuhi." Sekarang putri Raja mengangkat kodok tersebut dengan tangannya, membawanya ke kamarnya di lantai atas dan menaruhnya di sudut kamar, dan ketika sang putri mulai berbaring untuk tidur, kodok tersebut datang dan berkata, "Saya sekarang lelah dan ingin tidur seperti kamu, angkatlah saya keatas ranjangmu, atau saya akan melaporkannya kepada ayahmu."

    Putri raja tersebut menjadi sangat marah, mengangkat kodok tersebut keatas dan melemparkannya ke dinding sambil menangis,

    "Diamlah kamu kodok jelek!"

    Tetapi ketika kodok tersebut jatuh ke lantai, dia berubah dari kodok menjadi seseorang pangeran yang sangat tampan. Saat itu juga pangeran tersebut menceritakan semua kejadian yang dialami, bagaimana seorang penyihir telah membuat kutukan kepada pangeran tersebut, dan tidak ada yang bisa melepaskan kutukan tersebut kecuali sang putri yang telah di takdirkan untuk bersama-sama memerintah di kerajaannya.

     Dengan persetujuan Raja, mereka berdua dinikahkan dan saat itu datanglah sebuah kereta kencana yang ditarik oleh delapan ekor kuda dan diiringi oleh Henry pelayan setia sang Pangeran untuk membawa sang Putri dan sang Pangeran ke kerajaannya sendiri. Ketika kereta tersebut mulai berjalan membawa keduanya, sang Pangeran mendengarkan suara seperti ada yang patah di belakang kereta. Saat itu sang Pangeran langsung berkata kepada Henry pelayan setia, "Henry, roda kereta mungkin patah!", tetapi Henry menjawab, "Roda kereta tidak patah, hanya ikatan rantai yang mengikat hatiku yang patah, akhirnya saya bisa terbebas dari ikatan ini".

    Ternyata Henry pelayan setia telah mengikat hatinya dengan rantai saat sang Pangeran dikutuk menjadi kodok agar dapat ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh sang Pangeran, dan sekarang rantai tersebut telah terputus karena hatinya sangat berbahagia melihat sang Pangeran terbebas dari kutukan.



    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Privacy Policy

    Your privacy is very important to us. Accordingly, we have developed this Policy in order for you to understand how we collect, use, communicate and disclose and make use of personal information. The following outlines our privacy policy.

    • Before or at the time of collecting personal information, we will identify the purposes for which information is being collected.

    • We will collect and use of personal information solely with the objective of fulfilling those purposes specified by us and for other compatible purposes, unless we obtain the consent of the individual concerned or as required by law.

    • We will only retain personal information as long as necessary for the fulfillment of those purposes.

    • We will collect personal information by lawful and fair means and, where appropriate, with the knowledge or consent of the individual concerned.

    • Personal data should be relevant to the purposes for which it is to be used, and, to the extent necessary for those purposes, should be accurate, complete, and up-to-date.

    • We will protect personal information by reasonable security safeguards against loss or theft, as well as unauthorized access, disclosure, copying, use or modification.

    • We will make readily available to customers information about our policies and practices relating to the management of personal information.

    • We use third-party advertising companies to serve ads when you visit our website. Our advertising partners include, but are not limited to, Google. These companies may use information (not including your name, address, email address, or telephone number) about your visits to this and other websites in order to provide advertisements about goods and services of interest to you. If you would like more information about these practices, used by Google, or to opt out of having cookies set on your system, please visit Google’s Ad and Content Network Privacy Policy page.

    We are committed to conducting our business in accordance with these principles in order to ensure that the confidentiality of personal information is protected and maintained

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Tentang Kami

    puisi-moe.blogspot.com menyajikan berbagai macam cerita, untuk remaja, dewasa dan orang tua. dengan ini saya sebagai author memberikan artikel yang bisa anda baca, cerita disini meliputi cerita anak, dongeng, cerita lucu, cerita rakyat dan masih banyak lagi.

    di puisi-moe.blogspot.com juga menyediakan kepada anda untuk ikut berkontribusi dan berbagai mengenai cerita - cerita yang bisa anda karang atau mengenai pribadi anda sendiri. anda dapat mengirim cerita di sidebar sebelah kanan. silahkan kirim ke alamat yang telah di sediakan.

    akhir kata, semoga puisi-moe.blogspot.com ini memberikan manfaat yang baik kepada para pembaca dan pelanggan yang setia.

    bila ada saran dan kritik silahkan kirim ke alamat email kirimceritaku@gmail.com

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    DAFTAR ISI


    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    Persahabatan Ular dan Buaya

    Pada suatu hari ada seekor ular dan buaya,mereka bersahabat di mana ada ular pasti ada buaya dan begitu pula dengan buaya. Pada suatu hari ada seorang pemburu ingin menangkap sang ular untuk dijadikan tas dari kulit nya itu, buaya itu mengetahui bahwa ular akan di jadikan mangsa oleh sang pemburu, melihat sahabat nya ingin di jadikan mangsa ia tidak tega, buaya berkata kepad ular “wahai sahabat ku berhati-hati lah karena kamu akan di jadikan mangsa oleh pemburu itu!”,
    “apa?”(ia terkejut)………jawab ular.
    “Iya, kmu akan di jadikan tas karena kulit mu yang bagus itu” kata sang buaya kepad sahabat nya itu. Akhirnya buaya berhati hati tapi taqdir berkata tidak. Sang pemburu itu cerdik, ketika ular tertidur pulas ,ular di tangkap dan ingin di jadikan tas dari kulitnya itu. Keesokan hari nya sang buaya menunggu sang ular di sungai tetapi aneh nya ular tidak datang juga.

    “ular kmna sih kmu? apa jangan-jangan kamu masih tidur?” kata sang buaya dalam hati. Dan akhirnya buaya meminta tolong kepada burung pipit untuk melihat sang ular apakah masih tidur atau tidak. Lalu burung pipit langsung pergi untuk melihat sang ular ternyata sang ular tidak ada di lubang nya, burung pipit segera pergi kembali kepada sang buaya ia berkata ” wahai buaya sahabat mu tidak ada di kandang nya”,
    buaya menjawab ” kemana dia hai burung pipit??,apa jangan-jangan?” dia di tangkap oleh pemburu itu??.

    Beberapa menit kemudian ada seekor kera datang kepada buaya,
    kera berkata ” hai buaya sahabatmu tadi di bawa oleh sang pemburu “,
    buaya menjawab” mengapa kamu tdk bilang dari tadi kera skrng terlambatlah sudah aku menyelamatkan sahabat ku”,
    buaya menyesal sekali karena tdk bisa menolong sahabatnya, air mata tak henti bercucuran dari matanya ia sngat bersedih sekali karena tidak bisa menolong sahabatnya. kini ia sndri tanpa ular meskipun banyak temannya hanya ular yg mau mengerti persaan sang buaya. Sampai akhir hayatnya ia terus menyesal.

    Dikirim oleh:

    Wiwi Komalasari (Subang-Jawa Barat)

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :

    PERMINTAAN SEBUAH DIARY

    Pada suatu hari ada seorang anak yang sedang duduk ditaman Pusat Kota dan membawa DIARY nya. Ia bernama Keyranita Azahra ia biasa di panggil Keyra atau Key. Disaat Keyra sedang duduk di bangku taman pusat kota Keyra mendengar ada yang memanggil namanya dari belakang.

    “Keyyyrraa”kata seseorang yang memanggil Keyra ternyata itu Ayah Keyra
    Keyra pun menengok kebelakang ia pun terkejut.
    “keyra kamu kemana aja Ayah cari kamu kemana – mana, ternyata kamu ada disini.”kata Ayahnya.
    “bukannya Ayah mementingkan perkerjaan Ayah dari pada aku”kata keyra
    “kamu ngomong apa sih Key”kata Ayah Keyra.
    “udah Ayah gak usah sok gak ngerti dech..!!!, Ayah selalu gak ada waktu buat aku”kata keyra langsung lari meninggalkan Ayahnya
    “keyyrraaa”teriak Ayahnya
    Keyra terus berlari menghiraukan Ayahnya. Tak di sangka Keyra berlari jauh dari taman pusat kota. Keyra menemukan Rumah yang tidak layak untuk di tempati yang ada di bawah jembatan tua. ia pun penasaran . keyra pun mengetuk pintu rumah itu.
    “tok..tok..tok” bunyi ketukan pintu
    Tak ada yang membuka pintu . keyra mencoba lagi tapi masih saja tidak ada yang membuka pintu itu. Dan akhirnya keyra langsung membuka pintu itu ternyata pintu itu tidak di kunci. Ia pun terus berjalan kedalam rumah itu. Disebuah kamar yang tak layak huni itu terdapat seorang wanita paruh baya yang sedang sakit. Ternyata wanita tersebut adalah Bundanya Keyra yang telah Cerai dengan Ayahnya. Keyra pun terkejut melihat Bundanya sakit.
    “Bundaa”teriak Keyra
    “Bunda bangun! Bunda bangun !”Keyra yang mencoba menyadarkan Bundanya
    Bundanya Keyra tetap tidak sadarkan diri. Keyra pun mulai putus asa. Ingin rasanya ia membawa Bundanya ke rumah sakit. Namun, ia tidak bisa membawa Bundanya sendirian. Dan walaupun ia lakukan itu, yang pasti Bundanya akan marah dengannya. Akhirnya, ia merawat Bundanya di rumah itu, hingga Bundanya sembuh.

    ^-^
    Sudah dua hari Keyra menginap di rumah itu. Namun Ayahnya tak kunjung menjemputnya. Ada dua alasan yang mungkin terjadi dengan Ayahnya hingga Ayahnya tidak bisa menjemputnya. Yaitu, 1 :karena ayahnya tidak tau rumah ini.
    2 ; karena ayahnya sibuk dengan pekerjaannya.
    Di rumah kecil itu, Keyra lebih merasa ceria. Karena ia merasa tidak kesepian. Di rumah itu, ia mempunyai teman ngobrol, mencurahkan isi hatinya, berbagi suka dan duka, tertawa bersama dan hal-hal menarik lainnya. Ketimbang di rumah besar yang sunyi, sepi, senyap, hanya bertemankan harta yang tidak berguna.

    Bunda Keyra sudah sembuh. Keyra pun berpamitan dengan Bundanya. Ia takut Ayahnya akan marah besar kalau ia tak kunjung pulang. Ia merasa tersiksa dengan perceraian kedua orang tuanya yang berakibat buruk terhadap masa depannya.

    Sesampainya di rumah, keyra langsung masuk ke kamarnya, menguncinya, dan seperti biasa, ia mencurahkan isi hatinya dalam buku harian (Buku Diary).

    Malam harinya, Ayah Keyra pun pulang. Ia langsung menuju kamar Keyra untuk memastikan anaknya itu sudah pulang atau tidak.
    Ketika pintu kamar Keyra dibuka, Keyra pun spontan terkejut, ia langsung menyembunyikan buku hariannya (Buku Diary).

    “Keyra.. Kamu sudah pulang, Nak. Kamu ke mana aja kemarin? Kenapa nggak bilang sama Ayah?” sang Ayah mencoba menginterrogasi Keyra.

    “Nginep rumah teman, Yah..” Jawab Keyra singkat.
    “Kenapa kamu nginep rumah teman? Emangnya kamu nggak punya rumah?” Tanya Ayahnya dengan nada pelan.

    “Ayah! Aku kesepian di rumah ini. Aku tidak merasa bahagia dengan semua harta yang Ayah berikan. Aku cuma minta perhatian dan kasih sayang kedua orang tuaku. Dan kalian selaluu ada di sampingku. Tapi Ayah tidak pernah mengerti apa maksudku!” bentak Keyra. Emosinya memuncak drastis.

    “Terus apa maumu?! Bagaimana Ayah bisa tahu, kalau kamu nggak ngasih tahu Ayah!!” bentak Ayah dengan nada tinggi.

    Ucapan Ayahnya membuat Keyra merasakan sakit yang luar biasa. Sekarang bukan hatinya saja yang sakit, seluruh tubuhnya juga ikut sakit. Keyra merintih kesakitan dan akhirnya pingsan. Melihat sang anak pingsan, sang Ayah langsung membawa Keyra ke rumah sakit. Dan langsung ditangani oleh dokter terhandal.

    Sesaat kemudian, dokter keluar dengan wajahnya yang kelihatan pucat. Papa Keyra, pun menghampirinya.

    “Penyakitnya kambuh lagi.” Ucap dokter itu.
    “Penyakit??” Tanya Ayah Keyra heran.
    “Penyakit Leukimia nya sudah stadium empat!” Lanjut dokter.
    Seketika itu pun Ayah Keyra terkejut.
    Penyakit Leukemia ? Stadium empat? Batinnya.
    “Maaf, Dok. Setahu saya, anak saya tidak pernah mengidap penyakit Leukemia. Apalagi sampai stadium empat. Saya tidak mengerti maksud Anda!” Ucap Ayah Keyra.
    “Bapak jangan bercanda. Keyra itu pasien lama saya. Sudah 2 tahun ia saya tangani. Kok Bapak sampai tidak tau masalah ini?” Jelas dokter dengan wajah bingung.
    Ayah Keyra semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan dokter tersebut. Sudah 2 tahun? Tapi mengapa Keyra tidak pernah mengatakannya? Batinnya lagi.
    “Dok, boleh saya masuk ke dalam? Saya mau jenguk anak saya!” Pinta Ayah Keyra sambil mengarahkan telunjuknya ke kamar tempat anak semata wayangnya itu dirawat.
    Di dalam kamar itu, ia melihat seorang gadis kecil mempertaruhkan nyawanya melawan sakit yang dideritanya. Dimanakah sosok seorang Ayah yang dia punya? Mengapa ia tak tau apa yang terjadi dengan anaknya? Apakah batin seorang Ayah dengan anaknya tidak terikat? Ditengah lamunannya, ia dibuyarkan oleh secercah suara kecil. Ya, suara Keyra.

    “Ayah..” ucapnya lemah.
    “Iya, Nak.” Ujar ayahnya sambil meneteskan air mata.
    “Ayah.. Aku mau minta sesuatu dari Ayah.. Aku mau…” Ucapan Keyra semakin lemah. Denyut nadinya semakin cepat. Nafasnya terengah-engah. Dan pada saat itu, detik itu, Keyra menghembuskan nafas terakhirnya sebelum mengatakan keinginannya itu. Tangisan langsung meluap dari kedua mata sang ayah. Sampai akhir hayat anaknya, ia tidak dapat mengabulkan permintaan anaknya itu. Dan sekarang ia tidak tau harus bagaimana. Ia tidak tau apa yang anaknya inginkan. Dan ia tidak tau bagaimana mewujudkannya.
    ^_^
    Dua hari setelah kepergian Keyra, sang ayah terus saja berdiam diri di rumah. Ia sekarang sadar, harta yang paling berharga baginya bukanlah uang tetapi keluarga. Ia pun mencoba mengenang Keyra dengan masuk ke dalam kamar Keyra. Ia membereskan kamar anaknya itu. Ketika ia sedang membereskan tempat tidur, tak sengaja ia menemukan sebuah diary di bawah bantal. Ia pun kemudian membuka diary itu, dan membacanya.

    Deardiary…
    Aku tak tau apa yang sedang ku alami Semuanya berubah begitu saja.
    Perceraian Ayah dan Bunda telah membuatku larut dalam kegelapan
    Aku tak bisa melihat masa depanku nanti.
    Sekarang aku mencoba menahan penyakit leukemia ku. Aku tidak ingin mereka
    mengetahuinya. Aku tidak ingin kedua orang tuaku saling menyalahkan.
    Cukup aku yang merasakan sakit ini.


    Deardiary…
    Ya Allah…
    Kenapa Kau berikan cobaan ini kepadaku?
    Kenapa Kau memberikan sakit ke Bundaku?
    Kenapa Kau buat Ayah melupakanku?
    Kenapa aku tidak pernah bisa menjadi Orang yang lebih sabar lagi menahan
    cobaan ini.
    Ya Allah..
    Yang hambaMu inginkan cuma satu. Tolong persatukan keluarga kami lagi.
    Tolong satukan Ayah dan Bunda agar Ayah bisa merawat Bunda.
    Karena mungkin hamba tidak bisa merawat Bunda lagi.
    Karena mungkin Kau akan memanggil hamba.
    Jadi hamba mohon, persatukan keluarga hamba.
    Ayah… yang Keyra minta selama ini adalah itu.
    Keyra minta Ayah menjemput Bunda di rumah kecil di bawah jembatan tua.
    Dan Keyra ingin Ayah menjaga dan merawat Bunda untuk selamanya. Hingga
    akhir hayat.
    Amiiinn… Ya Rabbal A’lamin.
    Tetesan air mata berjatuhan. Isak tangis meluap. Sekarang.. saat itu juga ayah Keyra pergi menjemput mantan istrinya itu sesuai kehendak Keyra.Di rumah kecil itu, ia melihat mantan istrinya duduk termenung. Ia pun mendekatinya dan perlahan mengatakan tentang kepergian Keyra. Mendengar berita itu, sang ibu langsung menangis. Ia tak dapat menerima semua itu. Namun, ia pun tidak bisa mengelak takdir illahi. Sesuai keinginan Keyra, kedua orangtuanya pun bersatu kembali


    *TAMAT*

    Dikirim oleh: Aura Febiliani (6B SD Jatisari)

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :