Cerita Rakyat: Anak yang Durhaka pada Ibunya
Pada zaman dahulu, di sebuah tempat di Kalimantan, ada suatu keluarga miskin. Keluarga itu memiliki anak gadis yang cantik jelita bernama Darmi. Dia anak tunggal sehingga dia biasa berlaku manja. Wajah gadis itu memang sangatlah cantik, namun sangat di sayangkan, sifatnya tak secantik parasnya, dia sangat sombong. Karena sakit, ayah Darmi meninggal dunia.
Sejak itulah kehidupan Darmi berubah drastis. Biasanya gadis itu selalu mendapatkan apa yang diinginkannya karena orang tuanya selalu memberinya uang. Kini semuanya telah berbalik. Mereka jatuh miskin dan ayah Darmi tidak mewariskan apapun kepada mereka.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, ibu Darmi harus bekerja banting tulang siang, dan malam. Dia bekerja sebagai buruh atau mengerjakan ladang orang lain. Kadang-kadang orang hanya memberikan pekerjaan yang ringan kepadanya dengan upah yang rendah. Sebaliknya, Darmi tumbuh menjadi gadis yang sangat pemalas. Dia tidak mau membantu ibunya bekerja. Pekerjaannya di rumah hanya bersolek (berhias diri) sesekali ia akan keluar keliling kampung bersama teman-temannya untuk memamerkan kecantikannya.
Suatu hari, Darmi melihat persediaan kosmetiknya telah habis. Dia meminta uang kepada ibunya yang baru pulang bekerja.
“Ibu tidak punya uang, Nak,” jawab ibunya.
“Ibu jangan berbohang. Ibu selalu bekerja tak putus-putusnya, mustahil bila tidak menyimpan uang,” kata Darmi marah.
“Uang itu untuk membeli beras, Nak. Nanti kita tidak bisa makan,” jelas ibunya. Darmi bangkit lalu merebut uang dari ibunya. Ibunya sangat terkejut.
“Ibu bisa mencari uang lagi sebagai gantinya!” seru Darmi. Demikianlah kehidupan keluarga itu sehari-hari. Ibu Darmi yang sebenarnya sangat menyayangi anaknya, kadang tak kuasa menahan kesedihan.
Di hari lain, Darmi meminta ibunya agar membelikan sesuatu untuknya di kota. Ibunya tidak terlalu memahami barang apa yang dimaksud anaknya. Akhirnya mereka berdua berangkat ke kota mencari barang yang dimaksud Darmi. Darme berdandan secantik mungkin. Dia mengenakan pakaian terbaiknya, sedangkan ibunya hanyalah seorang perempuan tua yang compang-camping dengan pakaian penuh tambalan. Dalam perjalanan, Darmi merasa sangat malu berjalan berdampingan bersama ibunya, sehingga dia sengaja berjalan mendahului ibunya.
Di jalan seseorang menyapanya, “Darmi hendak ke manakah dirimu?”
“Aku hendak membeli sesuatu di kota,” jawabnya.
“Siapakah perempuan yang menemanimu itu?” Tanya orang itu lagi.
Darmi bimbang sesaat. Betapa malunya jika ia mengakui perempuan gembel dan kotor itu sebagai ibunya. “Dia pelayanku,” jawabnya angkuh.
Hati ibu Darmi sangat terluka mendengar jawaban anaknya itu. Di sepanjang perjalanannya itu ia terus berurai air mata.
Di kota, orang kembali menyapa anaknya, “Darmi, siapakah orang yang dibelakangmu itu?” Tanya orang tersebut.
Darmi melirik ibunya yang bermata basah. Namun, dia tetap malu mengakui perempuan itu sebagai ibunya. “Aku bersama pelayanku!” serunya angkuh.
Ibu Darmi semakin tak kuasa menahan kepedihannya. Dia menangis tersedu-sedu. Melihat perempuan itu menangis, seseorang menegur Darmi, “Hei, lihatlah perempuan yang berada di belakangmu itu. Mengapa dia menangis?” Tanya orang itu.
Sekali lagi Darmi melirik ibunya. Kali ini perempuan tua itu benar-benar membuatnya malu. “Aku tidak tahu. Dia bukan siapa-siapa.” Sekali lagi dia menunjukkan keangkuhannya.
Ibu Darmi merasakan tubuhnya lemas tak berdaya. Dia sangat terluka karena disakita oleh putrinya sendiri. Dia duduk tersungkur di pinggir jalan sambil berdoa kepada yang kuasa untuk menghukum anaknya.
Tiba-tiba langit yang cerah berubah menjadi hitam. Awan mendung bergulung-gulung ditiup angin yang sangat kencang. Ibu Darme terus berdoa, sedangkan Darme berteriak ketakutan.
Darmi merasakan ujung kakinya kaku dan mengeras seperti batu, perlahan-lahan menjalar ke seluruh tubuhnya. Darmi menjerit-jerit ketakutan. Dia memohon kepada ibunya agar mengampuninya. Namun, nasi telah menjadi bubur. Sang Ibu hanya bisa menangis menyaksikan anak gadis semata wayangnya perlahan-lahan berubah menjadi batu.
Setelah kejadian itu, langit seketika cerah kembali. Orang-orang beramai-ramai menepikan batu itu ke tebing. Batu itu terus meneteskan air mata dan tak pernah kering. Hal itu adalah pertanda bahwa Darmi menyesali semua perbuatannya. Menurut kamu apakah sikap Darmi baik untuk dicontoh? Jawabannya ada di lubuk hatimu yang paling dalam.

0 komentar:
Posting Komentar