• Headlines News :

    Cerita Anak: Semangka Emas


    Muzakir mengamati Dermawan dari jauh. “Dasar manusia bodoh, dinasehati berkali-kali masih saja melakukan!” umpat Muzakir. Dia memperhatikan ketika adiknya sedang membagi-bagikan makanan kepada orang miskin dari rumah mewahnya.

                    “Kalau hartamu habis, aku tidak sudi membagikan harta kekayaanku padamu. Sepeser pun tidak akan! Aku akan menjadi orang terkaya di negeri ini. Hahaha!” Muzakir tertawa licik.

                    Sejak kecil, Muzakir memang selalu ingin lebih unggul daripada adiknya Dermawan, adiknya semata wayang. Di hatinya selalu timbul rasa iri dan dengki jika melihat Dermawan lebih disayang oleh orangtuanya . Untunglah sang ayah memahami sifat Muzakir. Sebelum meniggal, saudagar kaya di sambas itu membagikan kekayaannya kepada kedua putranya, Muzakir dan Dermawan secara adil.

                    Setelah mendapat warisan, Muzakir yang kikir itu segera membeli peti besi untuk menyimpan hartanya. Bila ada orang miskin yang dating ke rumahnya untuk meminta sedekah, Muzakir pasti mencemooh dan menertawakannya. Sebaliknya, Dermawan sangat peduli pada sesame.

                    “Hei, Dermawan! Kalau hartamu selalu kaubagi-bagikan, lama-kelamaan akan habis. Kau akan jatuh miskin seperti gembel-gembel itu,” ujar Muzakir memperingatkan adiknya. “Apa kau tidak takut jadi miskin, heh?”

                    Dermawan hanya tersenyum menanggapi kekhawatiran Muzakir. “Tidak akan, kak. Kau salah besar. Justru dengan membagi-bagikan apa yang kita punya pada orang yang membutuhkan, kita akan semakin kaya. Harta itu Cuma titipan Tuhan yang sewaktu waktu bisa diambil kembali. Tuhan member kita harta sebagai sarana untuk beribadah, bukan untuk disimpan, apalagi ditumpuk-tumpuk.”

                    “Ah, persetan kau! Jangan menasehati orang kaya yang lebih tua!” potong Muzakir kesal. Bertahun-tahun kemudian, apa yang dikatakan Muzakir menjadi kenyataan. Dermawan jatuh miskin. Dermawan pun berkebun untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

                    “Hei dermawan, apa kubilang? Sekarang baru tahu rasa kau, ya? Mana buktinya kalau hartamu semakin melimpah?” Muzakir tersenyum sinis. Dia merasa di atas angin.

                    Dermawan berusaha tetap tenang menanggapi sindiran kakaknya. “Kekayaan itu bukan hanya berwujud materi, Kak. Kesabaran seseorang juga tanda bahwa dia kaya, yaitu kaya hati.”

                    “Hahaha! Adikku, kau ini ada-ada saja.” Tak henti-hentinya Muzakir menertawakan Dermawan.

                    Dermawan baru saja selesai bekerja di kebun. Ia sangat kelelahan, lalu ia berteduh di bawah pohon pekarangan rumahnya. Tiba-tiba seekor burung pipit jatuh tepat di depannya. Burung itu mencicit kesakitan.

                    Dermawan segera mendekati burung malang itu dan mengangkatnya. Rupanya burung malang itu terluka dan sayapnya patah. Dermawan segera mengobati burung kecil itu dan merawatnya. Dermawan memberi burung itu segenggam beras untuk makan sehari-hari. Burung itu pun jadi jinak dan tidak takut pada Dermawan. Akhirnya, si burung sembuh dan bisa terbang lagi.

                    Keesokan harinya, burung itu kembali mengunjungi Dermawan. Di paruhnya ada sebutir biji dan diletakkannya di depan Dermawan. Dermawan tertawa melihatnya. Biji itu adalah biji biasa saja. Meski demikian, senang juga hatinya menerima hadiah pemberian burung itu. Biji itu lalu ditanam di belakang rumahnya.

                    Tiga minggu kemudian, tumbuhlah biji itu. Ternyata biji itu adalah tanaman semangka. Dermawan memelihara tanaman itu dengan baik sehingga tumbuh subur. Pada mulanya Dermawan menyangka buahnya akan banyak. Namun, aneh, meskipun buahnya banyak, yang menjadi buah ternyata hanya satu. Ukuran semangka ini luar biasa besarnya, jauh lebih besar dari semangka biasanya. Buahnya tampak sedap dan harum baunya.

                    Setelah masak, Dermawan memetik buah semangka itu. Amboi, bukan main beratnya! Dermawan mengangkat semangka tersebut dengan kedua tangannya sambil terengah-engah.

                    Dermawan meletakkan semangka itu di atas meja dan membelahnya. Setelah semangka terbelah, betapa kagetnya Dermawan. Isi semangka itu hanyalah pasir kuning yang menumpuk di mejanya. Namun, ketika di perhatikan sungguh-sungguh, ternyata pasir itu adalah emas murni!

                    Dermawan pun langsung bersujud, bersyukur pada Tuhan. Di luar rumah, burung pipit yang pernah ditolongnya dulu hinggap di sebuah tonggak. “Wahai, Burung pipit, terima kasih telah memberiku biji tanaman yang ajaib ini!” seru Dermawan. Burung itu pun terbang tanpa kembali lagi.

                    Keesokan harinya Dermawan membeli rumah yang bagus dengan pekarangan yang sangat luas. Semua orang miskin yang datang kerumahnya di berinya makan. Hasil kebunnya pun semakin melimpah ruah.

                    Rupanya hal ini membuat Muzakir iri hati. Muzakir yang ingin mengetahui rahasia Dermawan, lalu pergi kerumah adik. Dermawan pun menceritakan semuanya dengan jujur.

                    Mendengar cerita Dermawan, Muzakir langsung memerintahkan pelayannya pergi ke hutan untu mencari burung yang patah kaki atau patah sayapnya. Namun, hingga satu minggu lamanya, seekor burung yang demikian itu tak kunjung di temukan. Muzakir sangat marah dan tak nyenyak tidurnya.

                    Paginya, Muzakir mendapat ide. Diperintahkannya seorang pelayan untuk menangkap burung dengan perangkap jepit. Tentu saja sayap burung itu menjadi patah. Muzakir pura-pura kasihan melihat burung itu dan membalut luka pada sayapnya. Setelah beberapa hari, burung itu pun sembuh dan dilepaskan terbang kembali.

                    Keesokan harinya, burung itu pun kembali ke Muzakir untuk memberikan sebutir biji. Muzakir sungguh gembira. Biji pemberian burung itu ditanamnya di kebun. Tumbuhlah semangka yang subur berdaun rimbun. Buahnya pun hanya satu, dan ukurannya lebih besar daripada semangka Dermawan. Ketika dipanen, dua pelayan Muzakir denga susah payah membawanya kedalam rumah karena sangat berat.

                    Muzakir membawa parang. Dia sendiri yang akan membelah semangka itu. Begitu semangka itu di potong, menyemburlah dari dalam buah itu lumpur hitam bercampur kotoran ke muka Muzakir. Baunya seperti bangkai. Pakaian Muzakir serta permadani indah di ruang tamunya tak luput dari siraman lumpur dan kotoran itu. Muzakir berlari ke jalan sambil menjerit-jerit. Orang-orang yang melihatnya tertawa terbahak-bahak.

    Kumpulan Cerita : Cerita Anak | Cerita Dongeng | Cerita Rakyat
    Share dulu ya :
    Anda sedang membaca info Cerita Anak: Semangka Emas, anda bisa menemukan Cerita Anak: Semangka Emas ini dengan url https://puisi-moe.blogspot.com/2012/12/cerita-anak-semangka-emas.html, semoga info Cerita Anak: Semangka Emas bermanfaat

    1 komentar:

    Unknown mengatakan...

    http://taipannnewsss.blogspot.com/2018/01/ibu-hamil-sebaiknya-kurangi-minuman.html
    http://taipannnewsss.blogspot.com/2018/01/hobi-menyanyi-seperti-yon-koeswoyo-ini.html
    http://taipannnewsss.blogspot.com/2018/01/jasad-bayi-ditemukan-di-tong-sampah.html

    QQTAIPAN .ORG | QQTAIPAN .NET | TAIPANQQ .VEGAS
    -KARTU BOLEH BANDING, SERVICE JANGAN TANDING !-
    Jangan Menunda Kemenangan Bermain Anda ! Segera Daftarkan User ID nya & Mainkan Kartu Bagusnya.
    Dengan minimal Deposit hanya Rp 20.000,-
    1 user ID sudah bisa bermain 7 Permainan.
    • BandarQ
    • AduQ
    • Capsa
    • Domino99
    • Poker
    • Bandarpoker.
    • Sakong
    Kami juga akan memudahkan anda untuk pembuatan ID dengan registrasi secara gratis.
    Untuk proses DEPO & WITHDRAW langsung ditangani oleh
    customer service kami yang profesional dan ramah.
    NO SYSTEM ROBOT!!! 100 % PLAYER Vs PLAYER
    Anda Juga Dapat Memainkannya Via Android / IPhone / IPad
    Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami-Online 24jam !!
    • WA: +62 813 8217 0873
    • BB : D60E4A61
    • BB : 2B3D83BE
    Come & Join Us!

    Posting Komentar